Rabu, Oktober 31, 2007

STRESSLESS COUNTRY


Negara mana yang penduduknya jarang mengalami STRESS?! Jawabnya : Negara Belanda. Konon, resepnya sederhana. Penduduk Belanda memilih tiba di rumah tepat waktu daripada lembur di kantor. Seperti kita tahu, bekerja lembur akan merangsang hormon stress dan mengakibatkan mudah lelah dan jadi gampang marah.
(lihat gambar disamping, kayanya mereka memilih tidak lembur di kantor tapi tidak langsung pulang ke rumah juga, karena lebih memilih hang out, hehehe ...)

Selasa, Oktober 30, 2007

Betapa hebatnya cinta (jika kau menyebutnya “CINTA”).


Sedari pagi ini dipenuhi senyum. Bukan saja karena mimpi semalam. Pagi ini berlanjut. Yah, memang kehadirannya selalu membawa berkat buatku (buktinya, sedari tadi bibirku tersenyum – walau pekerjaan akhir bulan begitu membukit).

Just wonder, …
Waiting for a kiss.
From ?!
Malaikat perempuan.
So let me be your angel
(butterfly kisses …)


CINTA. Aku menyebutnya CINTA, dulu, sekarang dan selamanya. Mengutip artikel seorang kawan: Pernahkah kamu merasakan, bahwa kamu mencintai seseorang, meski kamu tahu ia tak sendiri lagi, dan meski kamu tahu cintamu mungkin tak berbalas, tapi kamu tetap mencintainya.
Pernahkah kamu merasakan, bahwa kamu sanggup melakukan apa saja demi seseorang yang kamu cintai, meski kamu tahu ia takkan pernah peduli ataupun ia peduli dan mengerti, tapi ia tetap pergi.
Pernahkah kamu merasakan hebatnya cinta, tersenyum kala terluka, menangis kala bahagia, bersedih kala bersama, tertawa kala berpisah.

Intinya, cinta nggak selalu memiliki (jayus siy! Tapi cinta selalu memiliki definisi universal yang bisa diterima oleh siapapun) Some says that this is not an eternal love, but for me, it is immortal. From the first time I knew him.

Begitulah hebatnya cinta. Mengingatnya saja sudah membuatku bahagia.

HaRi iNi LuaR BiaSa ... ... iNdaH



Thank you Lord, hari ini sungguh luar biasa ... indah

Ilusi kehadirannya yang menyejukkan (My Lovely Za); Teman di tempat kerja yang banyak tawa (esp:Omsis&Ominto); Telepon dari sahabat lama yang jauh tinggal di luar kota dan tiba-tiba saja muncul lagi (miss you, Chie!); Pekerjaan akhir bulan yang menumpuk tapi selesai tepat waktu (pffiuff); Makan siang yang delicious dari satu teman (thanks Pop!);
dan ... Telepon dari Team Bisnis yang menyatakan ... aku ... naik ... peringkat ... yipppieee !!! YIIIPPPIIIEEE !!!!!!!!! YIIIPPPIIIEEE !!!!!!!!! YIIIPPPIIIEEE !!!!!!!!!

GOD, thaaannkk yyyyooouuuu for this loooovelllly day !!!

Senin, Oktober 29, 2007

Don't LeT tHe BuGbeD BiTes !


Semalam mimpi indah !!!

Memotong kue bintang, bersamamu ...
Meniup lilin dan make a wish
Alunan musik jazz
Menghitung bintang di langit,
Dan pagi ini aku bangun dengan tersenyum

lelaki kecilku,
terima kasih telah mengunjungiku

DoGs FaMiLy DaY

LUTCHYU BUANGGET ...




JaDi kAnGeN pEnGen pUnYa aNjiNg laGeeeee ...

Bridget Jones Addict


Beberapa hari ini aku sedang kecanduan nonton Bridget Jones'Diary dan sequelnya The Edge of Reason. Aku bisa nonton berulang ulang kali, bahkan kemarin Sabtu, pagi nonton, sorenya diulang lagi. Hallah ...
Uhm, aku ngerasa karakter Bridget tuh gw banget.

10 Reason Bridget = Aku :
1.Gendut (Renee benar2 menggemukkan badannya untuk peran ini - her boom booty hehehe)
2.Punya Nimo which is Mr.Daniel "Jerk" Cleaver dan punya Mr.Right : Mark Darcy (yang dengan bangganya dibanggakan as My Boyfriend is a humanright lawyer).
3.Selalu nggak PD dan nggak yakin apakah Mr.Right benar benar mencintai, dan kadang kadang melakukan hal bodoh untuk membuktikannya.
4.Love in writing.
5.Old fashioned.
6.Miss Drama Queen.
7.Berani mencoba hal hal baru, yang kadang gila dan nggak masuk akal (skydiving dengan mendarat di kandang babi, dan meluncur layaknya petugas pemadam kebakaran adalah contohnya).
8.Kirim sms "I Miss You Already" untuk Mr.Right setelah beberapa detik berpisah (jayus banget yah hehe)
9.Menganggap COKLAT adalah pacar kedua setelah pacar resmi.
10.Kalau lagi sedih menyanyikan lagu yang pas dengan berbagai ekspresi (^,^) ~ ekspresi Bridget waktu menyanyikan All By My Self keren banget, gw banget hehehe.

Minggu, Oktober 28, 2007

DASTER = DRUGS

Menurutku, daster itu seperti drugs. Nagih. Nikmatnya pakai daster seperti nikmatnya pakai drugs (mungkin yah, karena aku belum pernah make siy, cuma katanya aja drugs itu nyandu. Tulisan ini terinspirasi dari mereka yang mengalami ketergantungan dengan drugs, dan ketergantunganku terhadap secarik kain yang dijahit asal named DASTER).

Ini alasan aku menyebut diriku sudah terjangkit candu daster :
1.Setiap hari kerja, yang dilakukan pertama setelah pulang kerja adalah mengganti seragam kantor dengan “seragam” ibu rumah tangga : DASTER.
2.Setiap hari libur (Sabtu dan Minggu) kalau tidak ada acara sudah bisa DIPASTIKAN busana wajibku adalah DASTER.
3.Setiap (khususnya) hari Sabtu, setelah My Hubby berangkat kerja, aku langsung mengganti baju (biasanya setelah mandi dan sarapan bareng, aku pake celana pendek dan oblong) dengan DASTER. Kostum wajib ini memang paling nyaman untuk kondisi apapun selama lingkup kerja ada di dalam rumah.
4.Begitu juga dengan setiap malam walau sudah pakai babydoll atau oblong dan celana pendek, tetap aja ganti daster. Tidur paling nyaman kalau pakai daster, dijamin no nightmares deh !!!

Dan, sebenarnya masih banyak alasan yang kayaknya kok nggak etis ya diceritain di sini untuk alasan pribadi (baca : terlalu vulgar, hehehe).

Intinya, kecanduan daster ini mulai terasa jadi masalah karena curhat seorang sahabat. Beberapa kali dia kerumah saat hari libur, sudah dipastikan aku dengan seragam wajibku. Dengan kalimat yang sama, mohon permakluman : “Sorry ya aku pake daster. Panas banget siy. Kamu nggak papa khan?” dengan nada maksa, dan biasanya dia jawab, “Nggak papa Mbak, nyantai aja. Di rumah juga.”
Begitu saja waktu berlalu, kita ngobrol, ngupas mangga, minum air mineral, ngemil, sambil cerita-cerita. Sampai waktu jam pulang My Hubby. Dengan nggak enak si sahabat pamit, “Wah, sorry ya Mbak, udah sore ini Mbak belum selesai beresin rumah gara2 aku main ke sini.” “Nyantai aja, Non,” jawabku. “Bentar lagi aku mandi sambil nunggu suami pulang,” kataku.
Kalimat berikutnya cukup menyentilku, “Iyalah, jangan sampai suami pulang lihat Mbak masih pakai baju begitu.”

WAIT. SO WHAAAT???
I love this dress. What’s wrong with this dress, ha?!

“Ya suami empet aja kalee cape cape dari kantor pulang pulang liat istri dasteran gitu.”

Well. Di titik itu aku ngerasa sangat sangat sangat tidak terima mendengar kalimatnya. Kenapa siy. Aku pakai daster ini tetap aja kalau dasarnya seksi ya seksi kalee. Tapi apa iya siy suami empet? Atau mungkin My Hubby nggak tega bilangnya. Secara, biasanya kalau aku diprotes untuk small stuff gitu aku bisa yang uring2an nggak jelas (padahal mungkin aja protesnya dari dalam hati, please deh nggak nyadar!!!)

Di detik berikutnya aku menyadari, iya juga, mungkin juga iya. Didukung kalimatnya berikut, “Pernah loh Mbak, iseng-iseng aku sambut suami pulang dengan hot pants dan tanktop seksi, rambut basah abis keramas, dan kalimat pertama begitu aku buka pintu, suami bilang –wah, kalau liat gini nggak kuat dong” katanya sambil ketawa lucu. Somewhen, aku ngiri dengan romantisme diantara mereka. Pujian pujian, dukungan, dan cerita hangat yang kadang membuatku bercermin, apakah aku dan pasangan bisa sehangat itu? (thanks God, we’re not one of desperate housewives)

Kembali ke kalimatnya. Well. Apa iya siy? Setelah dia pulang, aku jadi berpikir. Mungkin itu jawaban beberapa hari ini My Hubby suntuk setiap pulang kerja (walau kenyataannya mungkin karena di kantor emang lagi banyak yang dipikirin kaleee – tapi kalau aku menyambut dia pulang dengan fresh mungkin juga akan mengurangi suntuknya) Iya khaan?!

So, sore itu aku segera mandi, wash my hair tentunya, seperti saran si sahabat. Pakai hotpants warna kuning yang dia belikan waktu ke Bali, dan tank top warna senada. Rada-rada drama dikit lah dengan rambut basah di bahu dan bergaya slow motion seperti di film komedi romantis. Dan … voila, I see the light in his eyes. Resepnya manjur!!! Nananana nanana nanana …

Ada dua hal yang kupelajari dari kejadian sore ini :
Satu, aku harus bisa mengatasi ketergantunganku terhadap DASTER a.k.a mengurangi pemakaian daster. Dan dua, seperti gembar gembor pemerintah untuk memerangi drugs, well then I loudly SAY NO TO DASTER !!!
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
thanks to Evy Sandra dan sepotong siang di hari Minggu.

Jumat, Oktober 26, 2007

Children Live What They Learn



Jika anak dibesarkan dengan celaan, ia akan belajar memaki
Jika anak dibesarkan dengan permusuhan, ia belajar berkelahi
Jika anak dibesarkan dengan ketakutan, ia belajar gelisah
Jika anak dibesarkan dengan rasa iba, ia belajar menyesali diri
Jika anak dibesarkan dengan olok-olok, ia belajar rendah diri
Jika anak dibesarkan dengan iri hati, ia belajar kedengkian
Jika anak dibesarkan dengan dipermalukan, ia belajar merasa bersalah
Jika anak dibesarkan dengan dorongan, ia belajar percaya diri
Jika anak dibesarkan dengan toleransi, ia belajar menahan diri
Jika anak dibesarkan dengan penerimaan, ia belajar mencintai
Jika anak dibesarkan dengan dukungan, ia belajar menyenangi diri
Jika anak dibesarkan dengan pengakuan, ia belajar mengenali tujuan
Jika anak dibesarkan dengan rasa berbagi, ia belajar kedermawanan
Jika anak dibesarkan dengan kejujuran dan keterbukaan, ia belajar kebenaran dan keadilan
Jika anak dibesarkan dengan rasa aman, ia belajar menaruh kepercayaan
Jika anak dibesarkan dengan persahabatan, ia belajar menemukan cinta dalam kehidupan
Jika anak dibesarkan dengan ketentraman, ia belajar berdamai dengan pikiran
(Dorothy Law Nolte)

Rabu, Oktober 24, 2007

DUNIAKU SUNYI

Aku sadar mereka memandangku dengan tatapan aneh. Mereka menyebutku ANEH.
Aku merasa tak ada yang aneh dengan diriku. Aku hanya ... berbeda! Aku menyebutnya, ... ISTIMEWA !!!

PADA SEBUAH PAGI. Aku masih ingat pagi itu, hari Rabu di bulan September. Pagi ini berbeda dari pagi pagi sebelum pagi ini. Bukan saja karena Bunda tidak pergi kerja. Biasanya, pagi pagi Bunda sudah sibuk berkemas, mengepak gunting, rangkaian daun dan bunga yang sudah dirancang malam sebelumnya sampai spon warna hijau yang aku tak tahu untuk apa, ke dalam box besar warna magenta. Biasanya, Bunda jarang menyentuhku sekalipun hanya mengecup keningku. Yang tertangkap di mataku hanya kesibukan Bunda dan ekspresi wajahnya yang tak pernah tenang. Morning rush. Aku mengerti. Sampai detik terakhir Bunda menutup pintu mobil dan menatapku seolah menyesal tak mengecup keningku tapi terlalu sibuk dan membuang waktu. Aku mengerti. Dalam diam, aku mengerti.

Hari ini berbeda. Bunda tidak bekerja. Sejak bangun tidur tadi Bunda mendekapku erat seperti takut kehilanganku. Kadang terasa sesak, sampai aku tak bisa bernapas. Bukan, Bunda tidak akan membunuhku, tentu saja TIDAK. Aku merasa aneh saja dengan pelukan Bunda pagi itu, tapi aku menemukan kedamaian dalam pelukannya.

Yang lebih aneh, bukan saja memeluk, punggungku basah oleh airmata Bunda. Bunda menangis?! Aku menarik diriku lalu menatap bulat bola matanya. Mata yang kumiliki darinya. Bibir tipis namun penuh yang juga kupunya. Warnanya merah muda. Kami berdua saling menatap. Ada wajah duka disana. Salah apa aku, Bunda, sehingga membuatmu menangis dengan luka? Aku tak mendengar suara tangis Bunda, aku hanya mendapati bahunya turun naik. Dan pipinya basah. Aku menghapusnya dengan lembut lalu mengecup pipinya. Ia kembali memelukku erat. Sangat erat.

Setelah pagi yang berbeda itu, hari-hari berikutnya juga menjadi hari yang berbeda. Banyak orang datang. Tidak seperti biasa orang berkumpul, tertawa, merangkai bunga, mengusung rangkaian bunga yang sudah jadi. Hari-hari setelah pagi itu diisi oleh tangis Bunda. Setiap ada orang baru yang datang, kembali Bunda menangis sambil berpelukan. Lalu mereka menatapku yang berdiri di ujung tak mengerti. Aku benci tatapan itu. Tatapan aneh. Aku tidak merasa ada yang aneh dalam diriku. Aku tahu ada yang berbeda. Aku menyebut diriku ISTIMEWA.

Dari sekian banyak orang yang datang, hanya satu orang yang membuatku nyaman. Berbeda dari teman-teman Bunda yang datang, memeluk Bunda, menangis bersama, lalu menatapku dengan aneh. Namanya Reja. Berbeda dengan yang mereka lakukan, Reja tidak menatapku dengan aneh. Reja menghampiriku dan memelukku. Dia menggendong, mengecup kening, dan membawaku menjauh dari tatapan mereka.

REJA. Nama yang aneh. Well, aku tidak suka menilai ANEH. Aku lebih suka menyebutnya BERBEDA. Hubungan Reja dengan Bunda cukup dekat. Reja selalu datang di acara istimewa Bunda. Bunda juga begitu. Kami datang di acara pernikahannya. Reja kelihatan sangat cantik dan berbeda. Suaminya juga begitu baik.
Selang beberapa waktu setelah pagi itu, baru aku mengerti mengapa aku berbeda. Bunda membawaku ke sebuah tempat yang disebut sekolah. Berbeda dengan sekolah dimana kakak lelakiku bersekolah. Sekolah untuk anak-anak berbeda. Istimewa. Kami tidak diperbolehkan bertemu dengan Bunda dan Ayah, dan satu-satunya kakak lelakiku. Baru kemudian aku tahu sekolah seperti ini disebut ASRAMA. Asrama sekolah ini tempatnya sangat jauh. Aku sering ... sangat ... sering ... kangen pada Bunda dan Ayah. Walau kakak lelakiku sangat bandel dan sering merebut mainanku, aku juga kangen dia. Kangen berebut mainan, seringkali, dan aku memenangkan pertengkaran setelah memukulnya, hehe. Aku kangen dia. Aku tahu dia juga kangen aku, atau pukulanku, haha.

Beberapa kali Reja datang bersama suaminya. Masih sama seperti sejak pertama kali di awal pagi itu, Reja tak menatapku dengan aneh. Setiap datang ia memelukku, mencium kening atau pipiku, dan membawakanku mainan. Belakangan setelah aku bisa membaca, Reja sering membawa buku cerita anak-anak. Ternyata Reja sendiri yang mengarangnya. Cerita lucu dan mendidik. Ada beberapa yang terinspirasi dari kenakalanku, katanya.

PADA SUATU PAGI YANG BERBEDA. Aku memberanikan diri untuk meminta sesuatu pada Bunda. Sesuatu, yang bagiku, bagi kami, terlalu mustahil karena harganya yang tak terjangkau. 25 dengan nol enam angka adalah angka yang sangat spektakuler. Bunda tak menjawab ya atau tidak. Bunda hanya menangis. Kemudian terpekur. Duh, aku menyesal dan sedih sekali membuat Bunda menangis. Aku mencium pipinya kemudian berlari meninggalkan Bunda dan Ayah yang sibuk menenangkan Bunda. Reja mengejarku. Kakak lelakiku mengikutinya dari belakang. Aku bersembunyi. Reja tahu dimana bisa menemukanku. Dia memelukku dan berkata-kata yang aku tak mengerti. Aku menangkap bibirnya bergerak-gerak. Dia berbicara dalam bisikan terlalu cepat. Aku tak mampu membaca bibirnya. Aku hanya bisa mengerti sedikit yang dia bilang setelah ia menggendongku dan menatap mataku.

“Suatu hari nanti. Suatu saat nanti aku pasti mewujudkannya untukmu.”

DAN HARI ITU PUN TIBA. Waktu sepertinya berulang. Bunda menangis. Ayah menenangkan Bunda. Kakak lelakikku tak sabar berada di samping Reja. Dan Suster kepala membantuku memasang sesuatu yang pernah kuminta pada Bunda dan hanya terjawab oleh air mata. Reja yang mewujudkannya. Reja memagang janjinya. Terima kasih, Reja.

AKU KINI BISA MENDENGAR. Walau suara yang aku dengar tak sama seperti yang Bunda, Ayah, Kakak Lelakiku, dan Reja dengar. Aku memang berbeda. Suara yang aku dengar pun berbeda. Tapi kini duniaku tak lagi sunyi. Aku bisa mendengar suara Bunda yang lembut. Suara Ayah yang tegas. Suara Kakak Lelakiku yang ceria. Dan Reja yang lebih sering tersenyum dari berkata-kata.

TERIMA KASIH, REJA !!!

REJA. Nama yang aneh. Ouff, maaf, bukan aneh. Aku lebih suka menyebutnya berbeda. Namanya berbeda dari nama kebanyakan. Sekarang baru aku tahu namanya. Bukan nama yang aneh, hanya berbeda. ReJa. REtas senJA. Nama yang unik. Dia sangat istimewa.
Dan aku mencintainya.
~~~~~~~~~~~~~~~~~
Kusongsong sinar mentari pagi
Hangat tawarkan gairah hidup
dan ........
Kubuka tirai hari dengan seribu cerita
Kurentangkan seluruh hari
Dengan senyum ceria,
sarat dengan harap dan cita-cita
Penuh gelak tawa yang membiaskan pesona
Kumenjelajah awan biru
Kumenempuh jalan yang penuh liku
Dan kutiti petak-petak penuh debu
Bahkan seribu kerikil dan batu
Kulalui semua itu dengan tekad dan harap Untuk meraih makna kehidupan
Segala puja dan puji kusanjungkan
sebab ........
Keagungan Allah semakin kurasa
Meski aku lahir tanpa kesempurnaan indera
Nada dan suara tidak pernah kudengar

Namun Tuhan memberi aku :
Orang-orang yang berhati mulia
yang tangannya lembut menyentuh rasa
yang membawa aku sampai mampu wicara
Dunia semakin terbuka bagiku
Hingga sunyi dan sepi tak lagi kurasa.

"la menjadikan segala-galanya baik, yang tuli dijadikan mendengar, yang bisu dijadikan-Nya berkata-kata".

Dedicated to Mutiara Tercipta. Suatu hari nanti. Suatu saat nanti, Nong !!! Tunggu 'nTe jadi DIAMOND ya Sayang ...

Selasa, Oktober 23, 2007

HaRi iNi LuaR BiaSa


Berangkat pagi pagi sampai kantor sudah dihadang pekerjaan yang menggunung di atas meja.
S H # # !!! Memorial transfer masuk bejibun. Realisasi biaya. Laporan kantor cabang selisih. Komputer hang. Mouse nggak mau gerak. Tinta printer ngadat. Complain nggak penting teman sebelah kubikel tentang – semua – yang – terjadi – di dirinya – nggak – ada – yang – beres. Teh yang tidak lagi panas. Sandal jepit yang putus. Dan seabrek kejadian nggak penting lain yang beruntun. Sampai akhirnya pulang larut malam. Lagi-lagi pulang malam.

Tapi … kan nggak boleh ngeluh?

Sebuah hari harus dilalui dengan SYUKUR. Right?!
Hari ini indah !!!
Hari ini LUAR BIASA.
SYUKURlah aku datang lebih pagi jadi bisa menyelesaikan pekerjaan tepat waktu. SYUKURlah ada transaksi transfer masuk jadi bunga transfer sedikit berkurang yang berarti hutang perusahaan berkurang, right! Realisasi biaya, salah satunya Jamuan Karyawan lembur semalam. SYUKURlah bagian SDM ngerti makanan favoritku : sate ayam podomoro. SYUKURlah laporan kantor cabang selisih jadi bisa telpun telpun ke cabang dan yang menerima si ganteng itu hehehe lumayan ngelaba dengar suara renyahnya. SYUKURlah karena komputer hang, mouse dan printer rewel, jadi sementara waktu pinjem komputer punya bos (ada link internetnya – punyaku nggak ada, soalnya heuheu, jadi bisa nyuri” browsing heuheuhee – termasuk posting archieve ini) SYUKURlah teman sebelah kubikel memilihku jadi tempat curhatnya daripada dia stress lalu bunuh diri?! (heh, mikir apa siy gw???) SYUKURlah teh nya udah nggak panas dan nggak enak, jadi aku minum air putih banyak banyak. Lebih sehat kaaan?! SYUKURlah sendal jepit putus. Akhirnya beli sendal baru. Dari dulu jaman flinstone mau beli sendal baru sayang karena masih bisa dipakai. I choose the pink one. Imut. Ada kupu-kupunya lagi di ujung kanan. Cute. Dan rasa SYUKUR pulang malam karena sesore tadi hujan deras jadi malam ini nggak keujanan.

So, siapa bilang kita nggak bisa berSYUKUR tiap hari ???
Yang perlu dilakukan cuma satu : UBAH CARA PANDANG !!!

Bayangkan saja kita datang ke kantor dan tak ada pekerjaan. Datang, makan siang, pulang. Begitu saja tiap hari. Lalu akhir bulan nanti tak terima gaji karena perusahaan tidak operasional. WOW !!! Menyedihkan. MENGERIKAN !!!

Jadi, nikmati hari ini. Bahasa latinnya apa tuh, Carpediem. (mungkin ~ kayanya tepat deh! hehe)

Well, enjoy your life !!! Katakan tiap hari : Thanks God for an every new day. Hari ini LUAR BIASA !!!

TENTANG MEMAAFKAN


Pada tahun 1971 surat kabar New York Post menulis kisah nyata tentang seorang pria yang hidup di sebuah kota kecil di White Oak, Georgia, Amerika. Pria ini menikahi seorang wanita yang cantik dan baik, sayangnya dia tidak pernah menghargai istrinya. Dia tidak menjadi seorang suami dan ayah yang baik. Dia sering pulang malam-malam dalam keadaan mabuk, lalu memukuli anak dan isterinya.

Satu malam dia memutuskan untuk mengadu nasib ke kota besar, New York. Dia mencuri uang tabungan isterinya, lalu dia naik bis menuju ke utara, ke kota besar, ke kehidupan yang baru. Bersama-sama beberapa temannya dia memulai bisnis baru. Untuk beberapa saat dia menikmati hidupnya. Sex, gambling, drug. Dia menikmati semuanya.

Bulan berlalu. Tahun berlalu. Bisnisnya gagal, dan ia mulai kekurangan uang. Lalu dia mulai terlibat dalam perbuatan kriminal. Ia menulis cek palsu dan menggunakannya untuk menipu uang orang. Akhirnya pada suatu saat naas, dia tertangkap. Polisi menjebloskannya ke dalam penjara, dan pengadilan menghukum dia tiga tahun penjara.

Menjelang akhir masa penjaranya, dia mulai merindukan rumahnya. Dia merindukan istrinya. Dia rindu keluarganya. Akhirnya dia memutuskan untuk menulis surat kepada istrinya, untuk menceritakan betapa menyesalnya dia. Bahwa dia masih mencintai isteri dan anak-anaknya.

Dia berharap dia masih boleh kembali. Namun dia juga mengerti bahwa mungkin sekarang sudah terlambat, oleh karena itu ia mengakhiri suratnya dengan menulis, "Sayang, engkau tidak perlu menunggu aku. Namun jika engkau masih ada perasaan padaku, maukah kau nyatakan? Jika kau masih mau aku kembali padamu, ikatkanlah sehelai pita kuning bagiku, pada satu-satunya pohon beringin yang berada di pusat kota. Apabila aku lewat dan tidak menemukan sehelai pita kuning, tidak apa-apa. Aku akan tahu dan mengerti. Aku tidak akan turun dari bis, dan akan terus menuju Miami. Dan aku berjanji aku tidak akan pernah lagi mengganggu engkau dan anak-anak seumur hidupku."

Akhirnya hari pelepasannya tiba. Dia sangat gelisah. Dia tidak menerima surat balasan dari isterinya. Dia tidak tahu apakah isterinya menerima suratnya atau sekalipun dia membaca suratnya, apakah dia mau mengampuninya? Dia naik bis menuju Miami, Florida, yang melewati kampung halamannya, White Oak. Dia sangat sangat gugup. Seisi bis mendengar ceritanya, dan mereka meminta kepada sopir bus itu, "Tolong, pas lewat White Oak, jalan pelan-pelan...kita mesti lihat apa yang akan terjadi..." Hatinya berdebar-debar saat bis mendekati pusat kota White Oak. Dia tidak berani mengangkat kepalanya. Keringat dingin mengucur deras.

Akhirnya dia melihat pohon itu. Air mata menetes di matanya...Dia tidak melihat sehelai pita kuning...Tidak ada sehelai pita kuning....Tidak ada sehelai......Melainkan ada seratus helai pita-pita kuning....bergantungan di pohon beringin itu...
Ooh...seluruh pohon itu dipenuhi pita kuning...!!!!!!!!!!!!Kisah nyata ini menjadi lagu hits nomor satu pada tahun 1973 di Amerika. Sang sopir langsung menelpon surat kabar dan menceritakan kisah ini. Seorang penulis lagu menuliskan kisah ini menjadi lagu, "Tie a Yellow Ribbon Around the Old Oak Tree", dan ketika album ini di-rilis pada bulan Februari 1973, langsung menjadi hits pada bulan April 1973.

I'm coming home I've done my time And I have to know what is or isn't mineIf you received my letter Telling you I'd soon be free Then you'd know justwhat to do If you still want me If you still want me Oh tie a yellow ribbon'Round the old oak tree It's been three long years Do you still want me IfI don't see a yellow ribbon 'Round the old oak tree I'll stay on the bus,forget about us Put the blame on me If I don't see a yellow ribbon 'Roundthe old oak tree Bus driver please look for me 'Cause I couldn't bare to seewhat I might see I'm really still in prison And my love she holds the key Asimple yellow ribbon's all I need to set me free I wrote and told herpleaseOh tie a yellow ribbon 'Round the old oak tree It's been three long yearsDo you still want me If I don't see a yellow ribbon 'Round the old oak treeI'll stay on the bus, forget about us Put the blame on me If I don't see ayellow ribbon 'Round the old oak tree Now the whole damn bus is cheeringAnd I can't believe I see A hundred yellow ribbons. 'Round the old, the old oak tree Tie a ribbon 'round the old oak tree. Tie a ribbon 'round the old oak tree Tie a ribbon 'round the old oak tree. Tie a ribbon 'round the old oak tree Tie a ribbon 'round the old oak tree. Tie a ribbon 'round the old oak tree Tie a ribbon 'round the old oak tree. Tie a ribbon 'round the old oak tree
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Cerita ini entah fiktif entah nyata, tapi cerita ini memang touchy banget. Buat kita belajar MEMAAFKAN. Kadang emang sulit banget. Apalagi kalau kita udah baeeek banget sama dia. Terlebih kita punya rasa CINTA buat dia. Tapi ternyata malah dia nyakitin hati kita.
MEMAAFKAN, membuat hati kita damai.

Rabu, Oktober 10, 2007

Sunset Freak !!!




I LOVE SUNSET




... senggigi beach ...