Menurutku, daster itu seperti drugs. Nagih. Nikmatnya pakai daster seperti nikmatnya pakai drugs (mungkin yah, karena aku belum pernah make siy, cuma katanya aja drugs itu nyandu. Tulisan ini terinspirasi dari mereka yang mengalami ketergantungan dengan drugs, dan ketergantunganku terhadap secarik kain yang dijahit asal named DASTER).
Ini alasan aku menyebut diriku sudah terjangkit candu daster :
1.Setiap hari kerja, yang dilakukan pertama setelah pulang kerja adalah mengganti seragam kantor dengan “seragam” ibu rumah tangga : DASTER.
2.Setiap hari libur (Sabtu dan Minggu) kalau tidak ada acara sudah bisa DIPASTIKAN busana wajibku adalah DASTER.
3.Setiap (khususnya) hari Sabtu, setelah My Hubby berangkat kerja, aku langsung mengganti baju (biasanya setelah mandi dan sarapan bareng, aku pake celana pendek dan oblong) dengan DASTER. Kostum wajib ini memang paling nyaman untuk kondisi apapun selama lingkup kerja ada di dalam rumah.
4.Begitu juga dengan setiap malam walau sudah pakai babydoll atau oblong dan celana pendek, tetap aja ganti daster. Tidur paling nyaman kalau pakai daster, dijamin no nightmares deh !!!
Dan, sebenarnya masih banyak alasan yang kayaknya kok nggak etis ya diceritain di sini untuk alasan pribadi (baca : terlalu vulgar, hehehe).
Intinya, kecanduan daster ini mulai terasa jadi masalah karena curhat seorang sahabat. Beberapa kali dia kerumah saat hari libur, sudah dipastikan aku dengan seragam wajibku. Dengan kalimat yang sama, mohon permakluman : “Sorry ya aku pake daster. Panas banget siy. Kamu nggak papa khan?” dengan nada maksa, dan biasanya dia jawab, “Nggak papa Mbak, nyantai aja. Di rumah juga.”
Begitu saja waktu berlalu, kita ngobrol, ngupas mangga, minum air mineral, ngemil, sambil cerita-cerita. Sampai waktu jam pulang My Hubby. Dengan nggak enak si sahabat pamit, “Wah, sorry ya Mbak, udah sore ini Mbak belum selesai beresin rumah gara2 aku main ke sini.” “Nyantai aja, Non,” jawabku. “Bentar lagi aku mandi sambil nunggu suami pulang,” kataku.
Kalimat berikutnya cukup menyentilku, “Iyalah, jangan sampai suami pulang lihat Mbak masih pakai baju begitu.”
WAIT. SO WHAAAT???
I love this dress. What’s wrong with this dress, ha?!
“Ya suami empet aja kalee cape cape dari kantor pulang pulang liat istri dasteran gitu.”
Well. Di titik itu aku ngerasa sangat sangat sangat tidak terima mendengar kalimatnya. Kenapa siy. Aku pakai daster ini tetap aja kalau dasarnya seksi ya seksi kalee. Tapi apa iya siy suami empet? Atau mungkin My Hubby nggak tega bilangnya. Secara, biasanya kalau aku diprotes untuk small stuff gitu aku bisa yang uring2an nggak jelas (padahal mungkin aja protesnya dari dalam hati, please deh nggak nyadar!!!)
Di detik berikutnya aku menyadari, iya juga, mungkin juga iya. Didukung kalimatnya berikut, “Pernah loh Mbak, iseng-iseng aku sambut suami pulang dengan hot pants dan tanktop seksi, rambut basah abis keramas, dan kalimat pertama begitu aku buka pintu, suami bilang –wah, kalau liat gini nggak kuat dong” katanya sambil ketawa lucu. Somewhen, aku ngiri dengan romantisme diantara mereka. Pujian pujian, dukungan, dan cerita hangat yang kadang membuatku bercermin, apakah aku dan pasangan bisa sehangat itu? (thanks God, we’re not one of desperate housewives)
Kembali ke kalimatnya. Well. Apa iya siy? Setelah dia pulang, aku jadi berpikir. Mungkin itu jawaban beberapa hari ini My Hubby suntuk setiap pulang kerja (walau kenyataannya mungkin karena di kantor emang lagi banyak yang dipikirin kaleee – tapi kalau aku menyambut dia pulang dengan fresh mungkin juga akan mengurangi suntuknya) Iya khaan?!
So, sore itu aku segera mandi, wash my hair tentunya, seperti saran si sahabat. Pakai hotpants warna kuning yang dia belikan waktu ke Bali, dan tank top warna senada. Rada-rada drama dikit lah dengan rambut basah di bahu dan bergaya slow motion seperti di film komedi romantis. Dan … voila, I see the light in his eyes. Resepnya manjur!!! Nananana nanana nanana …
Ada dua hal yang kupelajari dari kejadian sore ini :
Satu, aku harus bisa mengatasi ketergantunganku terhadap DASTER a.k.a mengurangi pemakaian daster. Dan dua, seperti gembar gembor pemerintah untuk memerangi drugs, well then I loudly SAY NO TO DASTER !!!
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
thanks to Evy Sandra dan sepotong siang di hari Minggu.
Minggu, Oktober 28, 2007
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar