Sebuah malam. Senja, tepatnya. Kami duduk berdua di sebuah bilik kayu. Menatap tebing kota dan citylights yang merambat pelan. Langit begitu bersih. Angin dingin terasa sutra di baju tanpa lengan.
Dia terbatuk kecil. Dingin. Aku menatapnya. Dia balas menatapku begitu melihatku menatapnya. Senyum dibibirnya. Ada citylight dimatanya. Langit begitu polos. Angin begitu lembut. Sebuah bintang jatuh melintas di depan kami.
"Make a wish, Dear," kataku.
"I wish we'll always be together."
"Dont tell me your wish. It will be a bad luck, Dear. Just say it in your heart. "
"I dont care. Always wanna be with you. Cause now I cant."
"Eliminate the word : CAN'T" I make a little laugh. "We always will, Dear."
Dia terdiam. Menatap langit yang bersih. Menghitung bintang. Jejak bintang jatuh tertera di binar matanya.
Senja meretas. Pagi menjelang.
Aku bangun dengan pipi basah air mata.

Dear Za, ... mungkinkah satu di antara seribu dimensi, pernahkah kita menjadi sepasang bintang jatuh yang berkejaran di langit kelam ???
Tidak ada komentar:
Posting Komentar