
Kau tidak tahu apa yang terjadi sampai kau melakukannya.
Bahkan setelah kau mengalaminya, kau tetap tidak tahu apa yang akan terjadi kemudian.
Tubuhku terurai menjadi serpih serpih jintan yang melebur dalam angin senja.
Tangkai rapuhnya terkoyak perlahan sementara kau hangat berdekapan dalam alunan irama.
Andaikan ku mampu menjadi pengisi celah yang ada.
Tapi ku hanya tersisa dalam serpih yang telah terburai hilang oleh badai senja.
Dan tangkai rampingnya menjadi kunci hati yang hanya bergoyang mengikuti irama sang angin.
Aku tersentak. Hatiku berontak. Tubuhku tak bergerak. Hanya rapuh tergeletak.
Tiba tiba saja rasa itu ada mengisi celah kesepianku senja ini.
Ruang kosong yang mestinya hampa.
Andai kau di sini, Sayang.
Mungkin ini tubuhku, yang lebur dalam desahnya.
Tapi tidak cintaku.
Hanya kau yang memiliki senyum fajar mentari jam delapan pagi.
Yang mengganti senjaku dengan cerahnya hari baru.
Inikah hidup?
Mestinya banyak pilihan. Oh ya, memang banyak pilihan.
Dan kau bebas memilih.
Hanya saja kadang tak tersadar terjebak pada pilihan yang sepertinya bukan pilihan.
Inikah hidup yang harus ku jalani?
Mengapa pesan terus terulang?
Tak pernahkan kau belajar dari alunan luka?
Ataukah, karena LUKA pula aku menjadi demikian PERKASA?
Terlalu banyak pertanyaan yang tak memiliki jawaban ...
Aku dan sebatang ego.
Terlalu tinggi sayap jiwaku membawa labuhan ini terbang dan dibiarkannya melayang layang.
Kakiku berpijak pada alang alang yang helainya demikian rapuh sekalipun untuk menentang angin.
Ya !!!
Angin yang membawa pergi kabar tentangmu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar