Tadinya, aku percaya malaikat itu ada. Dalam bentuk manusia tinggi besar. Berlengan kekar yang mampu merengkuh dan menenangkan. Berkulit hitam. Memakai jubah hitam dengan jumper. Memiliki senyum damai.
Tadinya, aku pikir HERO adalah malaikat yang dikirim Tuhan.
Untuk melepaskan aku dari tekanan-tekanan yang sedang kualami saat ini.
Ternyata BUKAN. Aku terlalu berlebihan.
Malam tadi, kami membuat janji. It’s not such kinda date. Kami tidak berkencan. Kami akan membahas kemungkinan-kemungkinan peluangku bisa mengisi kekosongan di divisi dia.
Dia menjemputku tepat jam setengah delapan. Aku belum siap. Terlalu asyik dengan batang pahit (ahha!!! Indah si kalong kecil itu telah meracuniku hahaha) ...
Akhirnya, aku bisa melihat wajahnya hehehe ... dipikir lucu juga. Selalu, pertanyaan yang mengikuti kemudian adalah : Apa yang aku cari??? – Jelas, aku mau melihat peluang. Hey, aku tidak pergi dengannya untuk sebuah kencan, rite ??? Sekalipun ada perasaan not comfort karena dia laki-laki, aku perempuan. Aku tidak ingin ada eros. Tidak terjadi denganku. Aku percaya 100% dengan hatiku. Aku tidak akan tergoda. Tapi entah dengannya? Aku tidak ingin. Sungguh tidak ingin. Apa yang dia cari? Mengapa dia begitu baik dan mau memberi kesempatan ini untukku? Aku harap, sungguh-sungguh karena dia membutuhkan orang baru di divisinya. Tapi kan kita baru ketemu. Ahh, mungkin dia memang sedang membutuhkan seseorang. Dan Tuhan telah melemparkan kulit pisang itu kan?!
Dalam hidupku, terlalu banyak pria yang tendensius. See what I mean? Terlalu banyak orang punya intrik. Sulit sekali mencari orang yang tulus. I thank God I have one, my hubby. Well, kembali ke ‘kencan’ kami. Kami makan di resto di ujung bukit yang tenang dan indah. Kami bicara tentang peluang-peluangku. Tentang apa yang musti kupersiapkan. Tentang apa saja yang bisa membuatku jatuh atau diterima. Dia cukup banyak membantu. Selain tentang itu, dia bicara tentang kehidupannya. Well, unik. Dia banyak cerita tentang masa kecilnya yang rasanya bisa aku jadikan novel (at least, bisa melengkapi referensi SERPIH).
Malamnya, aku pulang dengan perasaan tidak menentu. Ada sesuatu yang terasa tidak pas di hati. Bukan karena peluang yang begitu menantang dan menarik. Tapi, uhm aku nggak bisa bilang itu apa, aku tahu betul apa yang membuatku untuk bilang tidak, jadi kupikir mimpi bekerja di lembaga dunia ini aku kubur saja. Aku takut menghadapi kenyataan berulang. Orang-orang yang membantu tidak dengan ketulusan hati. Ada pamrih yang tak mampu kuberi. Maafkan. Maafkan, Hiro. Maafkan mimpi. Aku harus melepasnya pergi ... Satu yang kusadari, ternyata dia bukan malaikat yang dikirim Tuhan.
Dia hanya seseorang yang mengingatkanku kembali bahwa dunia itu masih ada ... Dan aku lelah terjebak disana. Aku harus merelakan mimpi ini pergi. Dan aku ingin mencipta mimpi-mimpi yang lain.
For Hiro,
Terima kasih untuk makan malam yang indah. Tapi aku harus bilang tidak. Maaf membunuh mimpimu. Aku juga terpaksa membunuh mimpiku untuk tidak mewujudkan mimpimu ...
Kamis, Juni 19, 2008
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar