
Aku nggak percaya berita itu. Yuni Shara cerai. Perih. Sedih. Lalu, satu kata pasrah : akhirnya ... Bukan, bukan aku menantikan kabar itu. Mungkinkah karena agama, kurasa bukan. Atau masalah harta, uff kok rasanya naif sekali. Lalu apa? Yuni Shara terlalu rapat menyimpan duka dalam senyumnya yang cantik. Aku menyesali keputusan ini. Baik dari Bang Hendri maupun Mbak Yuni. Apapun itu, perpisahan dengan orang yang kita cintai pastilah menyakitkan. For them who love this people. Cello dan Cavin. Sahabat-sahabatnya. Even aku, yang hanya satu hari mengenalnya. Aku bukan sahabatnya. Mungkin dia sudah lupa siapa aku. Aku satu dari sekian banyak perempuan yang menemaninya belanja di setiap perhentiannya di kota-kota tempat dia bekerja.
Hari itu, Tuhan mencipta satu hari untuk aku dan Mbak Yuni shoping di sepanjang Pandanaran. Setelah cukup belanja yang terburu itu, selama perjalanan ke Bandara, Mbak Yuni sedikit kasih input ke aku tentang KELUARGA. Itu setelah kami membahas buku 35 Cangkir Kopi. Betapa yang sedikit itu terasa banyak buatku. Dari sedikit itu aku nyata benar ketegaran Mbak Yuni. Segala benturan hidup yang dialaminya. Mungkin telah meretakkan cangkirnya. Mungkin sudah tak lagi bisa direkatkan. Terlalu keras benturannya. Tapi dia masih bertahan disana sebagai sebuah lemari antik untuk menyimpan cangkir-cangkir kecilnya. Cavin dan Cello.
Yuni Shara, perempuan kecil yang luar biasa.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar