Rabu, Agustus 27, 2008

terima kasih untuk detik

Aku selalu diajarkan untuk berjalan dengan kepala tegak.
Tidak terlalu merasa, tidak terlalu perasa.
Sampai beberapa waktu yang lalu, setidaknya.
Bertemu, awal dari hari ini untuk besok.
Untuk belajar sesekali berjalan dengan kepala tertunduk.
Menerima keterbatasan dengan kerendahan hati, karena keadaan.
Mulai terbiasa dengan kata yang sebelumya tidak ada.
Kenapa, Mengapa, Apa, semuanya diakhiri dengan tanda tanya.
Lama ternyata bisa hilang dengan sebentar.
Tahun, Bulan, Minggu, Hari, dan Jam bisa hilang hanya dengan detik.
Terima kasih untuk Detik.
Maaf untuk Tahun yang terlambat datang, atau mungkin terlalu cepat.
Kesederhanaan bisa jadi sangat rumit, tapi dengan menerima semua bisa kembali sederhana.
Sederhana ditambah dengan rasa yang baru, beberapa waktu yang lalu belum pernah aku rasa, baru saja beberapa saat yang lalu.
Masih dengan rasa untuk tidak puas yang pernah diajarkan dan aku kenal rasa itu dengan baik.
Aku sekarang sedang belajar untuk berpikir dengan cara yang berbeda.
Tolong ajari aku dan jangan terburu-buru.
Kemarin lalu terlalu cepat, aku belum bisa mengerti semua.
Aku sekarang berharap, yang sebelumnya jarang, hampir tidak pernah.
Berharap dan meminta andai kamu tau.
Tolong kabari aku, dimana aku bisa menukar Tahun, Bulan, Minggu, Hari dan Jam untuk menjadi Detik.
Detik yang sekarang aku punya terlalu cepat untuk menjadi Tahun, Bulan, Minggu, Hari dan Jam.
Aku tunggu kabar itu, aku butuh kabar baik itu...
Terima kasih untuk yang pernah kamu berikan di hitungan Detik yang masih terlalu cepat untuk aku.
Maaf untuk setiap yang terlewat aku berikan di Tahun, Bulan, Minggu, Hari dan Jam yang tidak pernah berlalu hanya untuk kita.

written by ardie, posted by lulu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar