Dulu, waktu kecil, ibu bilang aku anak yang pendiam. Nggak banyak ngomong. Nggak banyak suara. Tapi kalau udah nangis, kenceng. Selain nangis, aku juga kenceng kalau nyanyi. Tapi kalau ngomong pelan dan malu-malu. Ibu bilang sedari kecil aku mengekspresikan perasaanku dengan menyanyi (dan menangis).Waktu SD dan SMP aku dipilih jadi solis paduan suara kalau ada tugas nyanyi di gereja atau acara2 sekolahan. Waktu SMA aku mewakili lomba nyanyi waktu acara ORIENTASI dan dapat juara 2. Kuliah, aku tergabung di Dominico Savio Choir, dan menemukan keluarga baru yang anggotanya nggak boleh jaim, dan syarat utama jadi bagiannya adalah : diputus dulu urat malunya hhahahaha ....(jadi kangen miskam!!!). Kerja, nggak ada wadah yang menampung, aku tergabung di Laeticia Choir dan Smaralalita Choir. Aku nyadar, aku nggak punya suara emas. Biasa aja, menurutku. Cenderung berat, malah, dan setelah di placement test aku selalu berada di kelompok ALTO. Range suara aku juga nggak luas.
Di rumah, kalau libur, ibu tau aku sudah bangun atau belum dari suaraku nyanyiin lagu (ibu agak sulit mendeteksi aku sudah bangun atau belum karena biasanya aku keluar kamar agak siang – padahal sebenarnya udah bangun dari pagi, tapi nulis atau baca2 buku sambil malas2an – biasanya siy bertujuan untuk menghindari tugas bersih2 hehehe)
Waktu aku mulai pindah kerja di luar kota, aku sering curhat betapa sulitnya aku beradaptasi dan menghadapi lingkungan kerjaku yang baru. Atasan yang kayak iblis. Jauh dari orang-orang yang kusayangi. Sakit yang sering datang. Aku tau ibu sedih, dan ibu selalu bilang, doa ibu selalu menyertai (i love you, i !!! thank you for your love and pray). Pernah, satu waktu aku sangat terharu waktu di puncak emosi dan nggak tahannya aku dengan kondisi kerja yang nggak nyaman, ibu mungkin juga udah putus asa nggak tau harus bagaimana karena nggak bisa nemenin.
Setelah rangkaian curhat nggak pentingku yang aku tau nggak ibu dengar dengan lengkap karena banyakan nangisnya, ibu cuma bilang gini : kamu nyanyi aja – kamu selalu nyanyi kalau lagi sedih atau gembira, mudah2an dengan nyanyi perasaan lebih tenang.
Well, aku menyanyi. Lagu yang ibu ajarkan dari kecil. Lagu yang eyang kakung ajarkan untuk ibu. Lagu yang aku ajarkan untuk kedua ponakanku.
“Hati yang gembira adalah obat...” dan voila ... aku lebih tenang. Aku juga supply lagu nikita buat kekuatan aku, dan thanks God, sampai sekarang setiap sedih, nyanyi lagu2 nikita bikin aku lebih tenang dan kuat.
Kupikir, MENYANYI bisa jadi TERAPI.
Setiap stress, aku nyanyi. Di kantor, ngadapin ‘mamiti’ yang nyebelin, aku nyanyi. Ngadapin gosip yang nggak jelas, aku nyanyi. Sekalipun cuma senandung. Komentar bos baruku (setelah aku pindah ke kantor baru, katanya aku bawa perubahan) : sekarang ruangan ini nggak pernah sepi, tiap pagi sudah ada musik, kecuali kamu datang kesiangan. Katanya.
Seperti tengah minggu ini. Minggu yang berat. Setelah dia, yang kini harus aku panggil SAHABAT, memutuskan untuk pergi, aku seperti kehilangan nafas. Hari-hariku berbeda. Tidak ada obrolan malam. Tidak ada sapaan pagi. Hanya sesekali dan itu sangat berarti. Sekalipun lebih sering dia mengingkari, juga kadang aku, betapa aku dan dia masih saling rindu.
Besok malam aku perform di Novotel untuk bantu acara kantor. Sore ini aku nyanyi sepuasnya. Melepas semua emosi. Melupakan sejenak sakitku. Meninggalkan sebentar rasa rindu yang makin nyesak.
Seorang teman dari jauh berkomentar : suara kamu bagus (thanks!!!) coba kamu nyanyi lagu2 jazz iga mawarni – Ups, terlalu berat. Tapi aku mau coba. Dia pilihkan aku lagu KASMARAN.
Dan tiba-tiba saja rasa haru itu mengalir begitu saja.
Aku ... masih ... kasmaran ... padamu ...
(sumpe, norak!! – tapi ini jujur dari hati)
Dear sahabat,
Satu tanya buatmu – kamu nggak suka aku nyanyi? Kamu nggak suka dengar suaraku? Setiap aku menyanyi, kamu selalu komentar nyebelin dengan wajah usil, atau nimpalin aku nyanyi dengan cara tengilmu – kecuali waktu di gereja itu, you said that it was beautiful ... uff, that’s lil stuff but means a lot !!!
Let me sing. It’s singing therapy !!!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar