seorang dokter memvonis ia menderita kanker di rahimnya. perempuan itu cemas, pasti, karena ia akan meninggalkan seorang lelaki yang dikaguminya, seorang putra dan seorang putri yang amat dicintainya, dan seorang ibu yang dihormatinya.
delapan bulan berlalu, perempuan itu kembali menitikkan air mata, bukan karena perpisahan dengan orang-orang yang dicintainya karena penyakit yang merenggutnya, tapi air mata bahagia untuk menyambut kehadiran manusia baru, ... aku.
kanker itu, bukan seonggok daging biasa, perempuan itu tak menyerah, ia beralih ke beberapa dokter lain yang menyatakan bahwa ia sedang mengandung janin, ... aku.
terima kasih, ibu, karena tak begitu saja menyerah pada berita itu, dan tak begitu saja menyerahkan aku untuk kau kembalikan pada Sang Penitip. terima kasih, ibu, karena menemaniku selama 30 tahun, walau aku tak lebih sering membuatmu menitikkan air mata bahagia. maafkan aku, ibu, bila terlalu banyak kata dan sikapku yang tak membuatmu mudah tersenyum.namun dengan segenap rasa yang kupunya, aku berucap terima kasih, dan seribu maaf rasanya tak cukup untuk segala dosa yang kutoreh untuk luka hatimu.
semoga TUHAN selalu menghiaskan senyum dibibirmu, memeluk di masa rapuhmu, dan menyertai sampai akhir hidupmu. aku mencintaimu, ibu.
"SELAMAT HARI IBU, i !!!"
Tidak ada komentar:
Posting Komentar