Percaya malaikat itu ada ?
Aku percaya.
Amerika adalah salah satu negara yang pintar meramal. Ramalan-ramalan itu dijabarkan dalam film-film produksi Hollywood. Film tentang alien. Film tentang kloning. Film tentang ramalan dunia, virus-virus aneh, ciptaan-ciptaan aneh. Bahkan, film JUNIOR pun sekarang sudah nyata. Di Amerika ada laki-laki yang BENAR-BENAR hamil, sekalipun dulu dia seorang perempuan yang transgender jadi pria. Gila ya !!! Juga, film tentang malaikat. Salah satu film tentang malaikat yang aku suka adalah City Of Angels (Nicholas Cage & Meg Ryan). Digambarkan, malaikat-malaikat ada dimana-mana. Berpakaian jubah hitam dan berwajah damai. Sosok malaikat yang tertanam diingatanku adalah berbadan tinggi besar, berkulit hitam (Seal???), berpakaian hitam dan berjumper, memiliki lengan kekar untuk merengkuh, tidak terlalu tampan, tetapi memiliki senyum yang teduh dan damai.
Suatu malam, hari minggu tanggal 15, i met my angel. Beberapa minggu ini hidupku agak kacau. Tekanan bertubi-tubi. Kondisi hati yang sedih tak berujung. Di saat aku lelah dengan hidupku. Di saat aku ingin berhenti berusaha. Di saat aku tiba di ujung pengharapan. Hariku diubah-Nya. Sesaat sebelum bertemu dengan malaikat itu, aku diberinya cinta baru (i told u in my recent archieve). Aku sedikit diberinya senyum di awal perubahan hidupku.
Malam itu, aku sengaja mengambil tiket malam untuk kembali ke City of Lights. Siapa yang tahu malam itu aku dapat teman perjalanan seorang pria (info dari mbak tiket siy sebelahku perempuan yang ternyata tidak jadi datang). Satu yang aku inginkan begitu mendapat tempat duduk adalah meletakkan tas libby dan tidur nyenyak sampai dua jam ke depan. Aku sudah siap memejamkan mata ketika suara berat itu menyapa.
”Kerja di luar kota ya, Mbak?”
Aku menoleh, and you know what ... I met my angel ... Pria itu (aku tahu dia pria dari deep earthy voice nya) berbadan besar, tinggi, berkulit gelap (dari kulit tangannya) memakai jumper dan … memiliki senyum meneduhkan !!! Aku tidak bisa melihat wajahnya di kegelapan bis dan karena sebagian wajahnya tertutup jumper, tapi sebuah sinar menyorot pada senyumnya.
O – M – G !!! Oh, my God …
I see an angel !!!
(Ups, sebenarnya hanya imajinasiku konyolku saja – hahaha seperti kata Malikha aku terlalu berlebihan, tapi malam itu, begitulah yang kurasa.)
And then, aku menjawab seadanya. Iya, and bla bla bla, aku menjawab seadanya setiap pertanyaan yang dia ajukan. Aku hanya ingin tidur. Malaikatku bercerita banyak hal tentang hidupnya yang hanya aku dengar setengah-setengah karena kantukku. Dia pernah tinggal di Singapore, di India, di China, di Paris, dimana dimana dimana ...
Kerja apa siy makhluk satu ini ???
Aku nggak ngerti ...
Kalimat yang mengusikku adalah, ketika dia bercerita tentang bagian hidup yang seperti yang sedang kualami. Kerja mapan di sebuah perusahaan settled dengan gaji yang lumayan. Lalu dia memutuskan untuk keluar karena dia merasa tidak banyak melakukan hal baik untuk orang lain. Uhm, well??? Persis dengan yang aku rasakan saat ini rite?!
Kerja udah satu dasa warsa (haha!!!) dan mengambil keputusan dengan segala konsekuensinya untuk move ke City of Lights ini, above all, kami memiliki impian yang pengin kami raih di sini. For a better life. For a better future. Tapi, ternyata aku tak bisa melakukan hal apapun kecuali memenuhi kebutuhan kantor, and well tanpa reward yang setimpal. Uhm, maksudku nggak worthed antara take and give.
Idealku, bekerja adalah melakukan sesuatu yang hasilnya untuk orang yang kita cintai. Untuk Tuhan, untuk keluarga, dan untuk orang yang membutuhkan. Share loves to the world. Tapi di sini, selain untuk diriku sendiri, tak ada untuk yang lain. Tidak untuk keluarga. Apalagi untuk orang lain. Dan keadaan ini sudah tidak asyik lagi. Aku sudah mulai banyak mengeluh. Hey, I used to be a tough person. Kesulitan adalah awal kita naik kelas. One step higher. Tapi keadaan saat ini benar-benar tidak membuatku maju. Mungkinkah ini ujung pengharapan??? Entahlah ...
I have nothing till he comes to my life (malikha!!! – he’s my angel too in different way, malikha sounds the same as malaikat. Rite !!!)
Dia, orang hitam ini, mulai bicara tentang diriku yang terepresentasi dirinya. Bekerja delapan tahun di lembaga pemerintahan, settled, good salary, tapi dia merasa tidak melakukan apapun untuk siapapun kecuali untuk dirinya sendiri. Not for his family. Not for his God, only for the corporation. Well, akhirnya dia meninggalkan pekerjaannya dan terlibat di organisasi yang saat ini digelutinya.
And, he offered me an applicant.
Katanya, ada lowongan pekerjaan persis untuk bidangku. Bla bla bla. Bli bli bli. Aku mulai menyimak. Satu dunia yang belum pernah aku kenal sebelumnya. Mengasyikkan. Temptating. Challenging. Well, dan salarynya ... WOOOWWWW !!! Standar segitu untuk City of Lights ??? No, katanya, ini standar dunia. Kamu digaji dolar, Sayang. Uhm, well ... aku silau, hehehe ... no, no, bukan karena gajinya (eh, jujur itu juga ding!!! hihihi) bukan semata itu. Tapi aku overview. Bekerja. Better salary. Do something to others. Berbagi kasih. Berbagi cinta. Well, sepertinya ini menarik.
And, above all ... aku heran, Tuhan sedang melempar kulit pisang dan langkahku tergelincir dan jatuh tepat di hadapannya.
“Boleh aku tahu nama kamu?”
Aku menyebut namaku.
“HERO,” dia menyebut namanya.
See. Tuhan sedang mengirimkan malaikat untukku dengan nama HERO.
Sampai aku berpisah darinya, aku belum mengenali wajahnya, kecuali senyumnya yang damai.
Senin, Juni 16, 2008
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar